Wednesday, June 12, 2013

askep abses



1.      Pengertian
 “Abses adalah penimbunan nanah yang terjadi akibat infeksi bakteri yang dapat terjadi dimana saja pada bagian tubuh kita.”
        “Abses adalah peradangan jaringan tubuh yang memungkinkan timbulnya rongga tempat nanah mengumpul.”
  “Abses adalah lesi yang sulit untuk di atasi oleh tubuh karena kecenderungannya untuk meluas kejaringan yang lebih luas dengan pencarian, kecendrungannya untuk membentuk lubang, dan konsistensinya terhadap penyembuhan.” (Price dan Wilson, 1994, hlm. 49).

2.      Etiologi
                    








Gambar: 2.3. Abses Abdomen
(Sumber : Inspeksi Pasien)
Penyebab abses adalah infeksi bakteri. Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara :
a.       Bakteri  masuk akibat tusukan jarum yang tidak steril
b.      Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain.
c.       Bakteri yang dalam keadaan normal hidup dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan.
Abses yang terjadi suatu luka ringan, cidera atau sebagai komplikasi dari folikulitis atau bisul terjadi karena benda asing yang di ikuti bakteri Stapilokokus, Esceria coli, mycobakteria dan juga bakteri yang bersifat anaerob (clostridium dan  peptostreptokokkus).

3.    Patofisiologi
         Terjadinya abses dikarenakan masuknya bakteri melalui luka atau infeksi di bagian tubuh lain maupun bakteri dalam tubuh yang tidak menimbulkan gangguan, lama kelamaan bagian yang terkena terjadi infeksi. Infeksi ini menyebabkan sebagian sel mati dan hancur sehingga bagian tersebut berongga berisi bakteri, sedangkan sebagian sel darah putih melakukan perlawanan dan akhirnya mati, karena jumlah sel tersebut sedikit. Sel tersebut menjadi pus dan akhirnya terdorong seperti benjolan yang disebut abses lalu terjadi peradangan yang menimbulkan nyeri, membuat tidak nafsu makan. Peradangan tersebut akhirnya pecah terjadi perdarahan sehingga menimbulkan kecemasan. Skema patofisologi abses dapat dilihat pada skema 2.1 berikut.



Bakteri

 
Skema 2.1 Patoflow Abses
 




















          
4.        Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya kepada fungsi suatu organ. Manifestasi klinis bisa berupa : nyeri, teraba hangat, pembengkakan, kemerahan, demam dan menggigil, mual, muntah dan pus.

5.        Pemeriksaan Diagnostik  
a.         Usapan Sitologis     : memungkinkan lesi – lesi majemuk 
b.        Kerokan dan biakan jamur : konfirmasi segera adanya infeksi.
c.         Pacth Testing : membuktikan dan menegakkan diagnosa adanya  alergi  dan menemukan penyebabnya.

6.    Penatalaksanaan
Beberapa penatalaksanaan yang dilakukan pada abses sebagai berikut
a.         Pembedahan
Untuk mengeluarkan nanah yang ada pada abses. Sebelumnya diberikan obat bius local lalu nanah dibuang, luka dibersihkan dan dikeringkan dan luka ditutup dengan kasa.
b.        Kompres Hangat 
Membantu mempercepat penyembuhan serta mengurangi peradangan.


c.         Pemasangan Drain dan Elizabeth Collar 
Drain dibuat dengan tujuan mengeluarkan cairan abses yang senantiasa di produksi bakteri. Elizabeth Collar dipasang untuk menjaga agar drain tidak lepas.
d.        Pemberian antibiotik
Pemberian antibiotik digunakan untuk membunuh bakteri streptomycin.
 
D.      Asuhan Keperawatan pada Klien Dengan Gangguan Sistem Integumen
Menurut Brunner and Suddarth (2001, hlm 1830), “Pengkajian umum sistem integument adalah sebagai berikut :
1.      Pengkajian
a.       Riwayat kesehatan
Riwayat medis dan pembedahan, riwayat keluarga, riwayat pengobatan, riwayat sosial, riwayat kesehatan saat ini.
b.      Data demografi
Usia, suku bangsa, pekerjaan (hobi), riwayat diet.
c.       Pemeriksaan fisik 
Pengkajian kulit melibatkan seluruh area kulit, termasuk membran mukosa, kulit kepala dan kuku.
1)      Turgor kulit  dan efek vasodilatasi
Elastis atau tidak dan demam.
2)      Pucat terlihat pada konjungtiva, sianosis, ikterik
3)      Mengkaji pasien dengan kulit gelap
Dilihat adanya eritema, ruam dan sianosis serta perubahan warna.
4)      Mengkaji lesi kulit
Lesi primer dan sekuder
5)      Mengkaji kuku dan rambut
Kuku ( inspeksi, alur transversum/ garis-garis beau, paronika disertai nyeri tekan dan eritema, clubbing dan pelunakan pada pangkal kuku)
Rambut (inspeksi dan palpasi, catat warna, tekstur serta distribusi, gejala gatal, adanya inflamasi atau tanda-tanda inflamasi parasit)

2.        Diagnosa dan Rencana Keperawatan
Menurut Doenges( 2001, hlm. 308), “diagnosa keperawatan yang  mengarah pada abses, yaitu : 
a.       Resiko tinggi infeksi b/d respon inflamasi.
1)   Kriteria hasil           : Mencapai  masa  penyembuhan  tepat  waktu,  
                                      tanpa bukti penyebaran infeksi.

2)   Intervensi               
a)    Pertahankan tekhnik aseptik.
b)   Pantau secara teratur dan catat tanda - tanda infeksi.
c)    Teliti adanya nyeri dan demam. 
d)   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotik.
3)   Rasional     
a)    Menurunkan resiko pasien terkena infeksi dan mengontrol penyebaran infeksi.
b)   Timbulnya tanda klinis yang terus menerus merupakan indikasi  perkembangan mikroorganisme.
c)    Infeksi dapat berkembang dan memerlukan intervensi lanjut.
d)   Bermanfaat untuk pencegahan mikrobakteri.

b.    Nyeri b/d infeksi atau inflamasi. 
1)   Kriteria hasil : Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol dan mampu istirahat dengan tepat.
2)   Intervensi     
a)    Berikan lingkungan yang tenang. 
b)   Bantulah keperawatan diri yang penting.
c)    Dukung untuk menemukan posisi yang nyaman.
d)   Berikan latihan gerak aktif atau pasif secara tepat.
e)    Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgetik.
3)   Rasional                 
a)    Meningakatkan istirahat atau relaksasi.
b)   Menurunkan gerakan yang dapat meningkatkan nyeri.
c)    Menurunkan ketidaknyamanan lebih lanjut.
d)   Dapat membantu merelaksasi ketegangan otot yang meningkatkan nyeri.
e)    Mungkin diperlukan untuk menghilangkan nyeri.

c.    Kerusakan mobilitas fisik b/d penurunan kekuatan dan nyeri.
1)   Kriteria hasil  : Mempertahankan  kembali  posisi  fungsional  optimal
                        dan mempertahankan integritas kulit.
2)   Intervensi       
a)    Periksa kembali kamampuan pasien.
b)   Kaji derajat imobilisasi pasien dengan menggunakan skala ketergantungan.
c)    Letakkan pasien pada posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karena tekanan.
d)   Berikan perawatan kulit dengan cermat.
3)   Rasional                               
a)    Menentukan intervensi selanjutnya.
b)   Setiap kategori mempunyai resiko.
c)    Perubahan sirkulasi secara teratur meningkatkan sirkulasi seluruh bagian tubuh.
d)   Meningkatkan sirkulasi, menurunkan resiko terjadinya lesi pada kulit dan elastis kulit .

d.   Ansietas b/d kurang terpaparnya informasi dan prognosis penyakit.
1)   Kriteria hasil  : Mengakui       dan       mendiskusikan      rasa      takut,
 mengungkapkan  keakuratan pengetahuan tentang situasi, tampak rileks.
2)   Intervensi       
a)    Kaji status mental dan ansietas.
b)   Berikan penjelasan hubungan antara proses penyakit dan gejalanya.
c)    Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan isi pikiran dan perasaan takutnya.
d)   Jawab setiap pertanyaan dengan penuh perhatian dan berikan informasi mengenai prognosa penyakit.
e)    Libatkan pasien dan keluarga dalam membuat keputusan.
f)      Lindungi privasi pasien.
3)   Rasional                   
a)    Derajat ansietas akan dipengaruhi bagaimana informasi tersebut diterima oleh individu.
b)   Meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan menurunkan ansietas.
c)    Mengungkapkan rasa takut secara terbuka.
d)   Penting untuk meningkatkan kepercayaan.
e)    Meningkatkan kemandirian.
f)    Melindungi pasien dari rasa malu.

e.    Kurang pengetahuan mengenai penyebab infeksi dan kebutuhan pengobatan b/d kurang terpaparnya informasi.
1)   Kriteria hasil  : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi penyakit
                        dan pengobatan.
2)   Intervensi        
a)    Berikan informasi yang singkat.
b)   Diskusikan mengenai proses penyembuhan.
c)    Berikan informasi tentang kebutuhan tinggi protein atau karbohidrat dalam jumlah kecil tapi sering.
d)   Instruksikan pada pasien untuk terus menerus melakukan latihan rentang gerak secara bertahap.
e)    Kaji ulang pengobatan yang diberikan.
3)   Rasional       
a)    Menurunnya perhatian dapat menurunkan kemampuan untuk menerima informasi.
b)   Meningkatkan penerimaan pasien terhadap kondisi penyakitnya.
c)    Meningkatkan proses penyembuhan dan meningkatkan pemasukan secara total.
d)   Membantu dalam menentukan fungsi atau otot.
e)    Pemenuhan dalam program pengobatan terjadwal perlu untuk mengatasi proses penyakit.

No comments:

Post a Comment