Wednesday, August 15, 2012

askep cedera medula spinalis


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan membahas konsep teoritis yang terkait dengan Asuhan Keperawatan yang diberikan kepada klien. Mulai dari Anatomi Fisiologi Madula Spinalis dan Konsep Dasar Medulla Spinalis, serta Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis Pada cidera Medulla Spinalis.
A.      Anatomi Fisisologi
1.         Medula Spinalis
Menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 3) medula spinalis adalah bagian dari susunan saraf pusat yang seluruhnya terletak dalam kanalis vertebralis, dikelilingi oleh tiga lapis selaput pembungkus yang disebut meningen. Lihat pada gambar 2.1 dibawah ini:






Gambar 2.1 Anatomi Medula Spinalis
8
 
(Mahadewa, 2009, hlm. 136)
Lapisan-lapisan dan struktur yang mengelilingi medula spinalis dari luar ke dalam antara lain : Dinding kanalis vertebralis (terdiri atas vertebrae dan ligamen), Lapisan jaringan lemak (ekstradura) yang mengandung anyaman pembuluh-pembuluh darah vena, Duramater, Arachnoid, Ruangan subaraknoid (cavitas subarachnoidealis) yang berisi liquor cerebrospinalis, Piamater, yang kaya dengan pembuluh-pembuluh darah dan yang Iangsung membungkus permukaan sebelah luar medula spinalis
Berikut ini dijelaskan segmen-segmen medula spinalis menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 4) seperti pada gambar 2.2 dibawah ini:
Gambar 2.2 Segmen-segmen Medula Spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 4)


Medula spinalis terbagi menjadi sedikitnya 30 segmen, yaitu 8 segmen servikal (C), 12 segmen thorax (T), 5 segmen lumbar (L), 5 segmen sacral (S), dan beberapa segmen coccygeal (Co). Dari tiap segmen akan keluar beberapa serabut saraf. Medula spinalis Iebih pendek daripada kolumna vertebralis sehingga segmen medula spinalis yang sesuai dengan segmen kolumna vertebralis terletak diatas segmen kolumna vertebralis tersebut (Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 6)
Dibawah ini dijelaskan mengenai penampang melintang medula spinalis menurut Mahadewa dan Maliawan (2009, hlm. 7), lihat pada gambar 2.3 dibawah ini:
Gambar 2.3 Penampang melintang medula spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 7)


2.         Kolumna Vetebralis
Menurut Syaifuddin (2006, hlm. 46) anatomi fisiologi kolumna vetebralis di klasifikasikan menjadi ruas tulang belakang, bagian – bagian tulang belakang dan lengkung kolumna vetebralis yang di paparkan sebagai berikut:
a.         Ruas tulang belakang
Bentuk dari tiap-tiap ruas tulang belakang pada umumnya sama hanya ada perbedaannya sedikit bergantung pada kerja yang ditanganinya. Ruas-ruas ini terdiri atas beberapa bagian:
1)        Badan ruas merupakan bagian yang terbesar, bentuknya tebal dan kuat terletak di sebelah depan
2)        Lengkung ruas, bagian yang melingkari dan melindungi lubang ruas tulang belakang, teletak di sebelah belakang dan pada bagian ini terdapat tonjolan yaitu:
a)         Prosesus spinosus/taju duri, terdapat di tengah Iengkung ruas, menonjol kebelakang
b)        Prosesus transversum/taju sayap, terdapat di samping kiri dan kanan leng­kung ruas
c)         Prosesus artikularis/taju penyendi, membentuk persendian dengan ruas tulang belakang (vertebralis)


Ruas-ruas tulang belakang ini tersusun dari atas ke bawah dan di antara masing-masing ruas dihubungkan oleh tulang rawan yang disebut cakram antar-ruas sehingga tulang belakang bisa tegak dan membungkuk. Di samping itu di sebelah depan dan belakangnya terdapat kumpulan serabut-serabut kenyal yang memperkuat kedudukan ruas tulang belakang. Di tengah bagian dalam ruas-ruas tulang belakang terdapat pula suatu saluran yang disebut saluran sumsum belakang (kanalis medula spinalis) yang di dalamnya terdapat sumsum tulang belakang  (Syaifuddin, 2006, hlm. 46).
Fungsi ruas tulang belakang menurut Syaifuddin (2006, hlm. 52) yaitu:
1)        Menahan kepala dari alat – alat tubuh yang lain
2)        Melindungi alat halus yang ada didalamnya (sumsum tulang belakang)
3)        Tempat melekatnya tulang iga dan tulang panggul
4)        Menetukan sikap tubuh
b.        Bagian-bagian tulang belakang
Bagian-bagian tulang belakang menurut Syaifuddin 2006, hlm. 53 adalah sebagai berikut:
1)        Vertebra servikalis (tulang leher) 7 ruas,
2)        Vertebra torakalis (tulang punggung) terdiri dari 12 ruas.
3)                 Vertebra lumbalis (tulang pinggang)-terdiri dari 5 ruas.
4)        Vertebra sakralis (tulang kelangkang) terdiri dari 5 ruas.
5)        Vertebra koksigialis (tulang ekor) terdiri dari 4 ruas. Ruas-ruasnya kecil dan menjadi sebuah tulang yang disebut juga os koksigialis.
c.         Lengkung Kolumna Vertebralis
Dilihat dari samping kolumna vertebralis terlihat ada empat kurva.atau lengkung. Lengkung vertikal, daerah leher melengkung ke depan, daerah torakal melengkung ke belakang, daerah lumbal melengkung ke depan dan daerah pelvis melengkung ke belakang. Sendi kolumna vertebralis dibentuk oleh bantalan tulang rawan yang terletak di antara tiap dua vertebra yang dikuatkan oleh ligamentum yang berjalan di depan dan di belakang vertebra sepanjang kolumna vertebralis  (Syaifuddin, 2006, hlm. 53).
Cakram antar-badan vertebra adalah bantalan tebal dari tulang rawan fibrosa yang terdapat di antara badan vertebra yang dapat bergerak. Gerakan sendi dibentuk antara cakram dan vertebra dengan gerakan yang terbatas dan gerakannya fleksi, ekstensi, lateral, samping kiri, dan samping kanan (Syaifuddin, 2006, hlm. 53).
Fungsi kolumna vertebralis sebagai penopang badan yang kokoh sekaligus bekerja sebagai penyangga dengan perantaraan tulang rawan cakram intervertebralis yang Iengkungnya memberi fleksibilitas untuk membengkok tanpa patah. Cakram juga berguna untuk meredam goncangan yang terjadi bila menggerakkan badan seperti waktu berlari dan meloncat, dengan demikian otak dan sumsum belakang terlindung terhadap goncangan (Syaifuddin, 2006, hlm. 53).

3.      Persarafan Medula Spinalis
Perjalanan serabut saraf dalam medula spinalis terbagi menjadi dua, jalur desenden dan jalur asenden. Jalur desenden terdiri dari traktus kortikospinalis lateralis, traktus kortikospinalis anterior, traktus vetibulopsinalis, traktus rubrospinalis, traktus retikulospinalis, traktus tektospinalis, fasikulus longitudinalis medianus (Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm.7).
Jalur asenden antara lain sistem kolumna dorsalis, traktus spinothalamikus, traktus spinocerebellaris dorsalis, traktus spinocerebellar ventralis, dan traktus spinoretikularis.
Terdapat banyak jalur saraf (traktus) di dalam medula spinalis. Jalur saraf tersebut dapat dilihat pada gambar 2.5 dibawah ini :
Gambar 2.5 Jalur persyarafan dalam medula spinalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 8)

4.      Peredaran darah di medula spinalis
Menurut Mahadewa & Maliawan (2009, hlm. 11) medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteria yang mempunyai hubungan istimewa. Arteri - arteri spinal terdiri dari arteri spinalis anterior dan posterior serta arteri radikularis. Dapat lihat pada gambar 2.6 dibawah ini:
Gambar 2.6 Vaskularisasi medula spinalis servikalis
(Mahadewa dan Maliawan, 2009, hlm. 11)

a.    Arteri spinalis anterior dibentuk oleh cabang kanan dan dari segmen intrakranial kedua arteri vertebralis.
b.    Arteri spinalis posterior kanan dan kiri juga berasal dari kedua arteri vertebralis.
c.          Arteria radikularis dibedakan menjadi arteria radikularis posterior dan anterior.

d.        Sistem anastomosis anterior adalah cabang terminal arteria radikularis anterior. Cabang terminal tersebut berjumlah dua, satu menuju rostra dan yang lain menuju ke caudal dan kedua-duanya berjalan di berjalan di garis tengah permukaan ventral medula spinalis.
5.      Proses Penyembuhan Tulang
Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endo- kendral. Ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut. Namun tulang mengalami regenerasi sendiri (Smeltzer, 2002, hlm. 2266).
Menurut Smeltzer, (2002, hlm. 2266), proses terjadinya penyembuhan tulang terbagi menjadi 10 yang akan dijelaskan seperti dibawah ini:
a.    Inflamasi.'Dengan adanya patah tulang Terjadi inflamasi, pernbengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dari hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
b.    Proliferasi  Sel. Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami. organisasi Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.
c.    Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, kolagen dan mengontrol) akam menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrus dan tulang rawan (osteoid).
d.   Pembentukan Kalus. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek secara langsung berhabungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perin waktu 3 sampai 4 minggu agar fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrus. Secara klinis, fragmen tulang tak bisa lagi digerakkan.
e.    Osifikasi. Pembentukan calus mulai mengalami penu­langan dalam 2 sampai 3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus menerus ditimbun sampai tulang benar-benar telah bersatu dengan keras, pemulangan memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan.
f.     Remodeling. Tahap akhir perbaikan patah tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodel­ing memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun- tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dani pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus stres fungsional pada tulang.
B.       Konsep Dasar Cedera Medula Spinalis
1.      Definisi
Trauma pada medula spinalis adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebra, dan lumbal akibat trauma, seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga, dan sebagainya. (Arif Muttaqin, 2005, hal. 98)

Trauma medula spinalis adalah trauma yang bersifat kompresi akibat trauma indirek dari atas dan dari bawah.. (Nugroho,2011, hlm 71)
B
 
A
 
_Pic146
Gambar 2.8 . A, ilustrasi dislokasi pada servikal B, foto Rontgen servikal (Arif Mutaqim, 2005, hal. 110)
2.      Etiologi
Menurut Arif muttaqin (2005, hal. 98) penyebab dari cedera  medula spinalis dalah :
1.      Kecelakaan lalu lintas
2.      Kecelakaan olahraga
3.      Kecelakaan industri
4.      Kecelakaan lain, seperti jatuh dari pohon atau bangunan
5.      Luka tusuk, luka tembak
6.      Trauma karena tali pengaman (Fraktur Chance)
7.      Kejatuhan benda keras

3.      Mekanisme Terjadinya Cedera Medula Spinalis
Menurut Arif Muttaqin (2005, hal. 98-99) terdapat enam mekanisme terjadinya Cedera Medula Spinalis yaitu : fleksi, fleksi dan rotasi, kompresi vertikal, hiperekstensi, fleksi lateral, dan fraktur dislokasi. Lebih jelasnya akan dijelaskan dibawaha ini:
a.  Fleksi.
Trauma terjadi akibat fleksi dan disertai dengan sedikit kompresi pada vertebra.
b.    Fleksi dan rotasi.
Trauma jenis ini merupakan trauma fleksi yang bersama-sama dengan rotasi.
c.    Kompresi vertikal (aksial).
Trauma vertikal yang secara langsung me­ngenai vertebra akan menyebabkan kompresi aksial. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara vertikal.
d.   Hiperekstensi atau retrofleksi.
Biasanya terjadi hiperekstensi sehingga terjadi kombinasi distraksi dan ekstensi
e.    Fleksi lateral.
Kompresi atau trauma distraksi yang menimbulkan fleksi lateral akan menyebabkan fraktur pada komponen lateral, yaitu pedikel, foramen vertebra, dan sendi faset.
f.     Fraktur dislokasi.
Trauma yang menyebabkan terjadinya fraktur tulang belakang dan dislokasi pada tulang belakang.
4.      Jenis-jenis Trauma Pada Sumsum Dan Saraf Tulang Belakang
Menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 99) jenis-jenis trauma pada sumsum tulang belakang dan saraf tulang belakang adalah:
1)        Transeksi tidak total.
 Transeksi tidak total disebabkan oleh trauma fleksi atau ekstensi karena terjadi pergeseran lamina di atap dan pinggir vertebra yang mengatami fraktur di sebelah bawah. Selain itu, dapat terjadi perdarahan pada sumsum tulang yang disebut hematomielia.
2)        Transeksi total. Transeksi total terjadi akibat suatu trauma yang me­nyebabkan fraktur dislokasi. Fraktur tersebut disebabkan oleh fleksi atau rotasi yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi segmen di bawah trauma.








5.      Patofisiograf
Skema 2.1 Patofisiograf Cedera Tulang Belakang
(Arif Mutaqim, 2005, hal. 100)


6.      Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien fraktur lumbal menurut Mahadewa dan Maliawan, (2009, hlm148) adalah :
a.         Foto Polos
Pemeriksaan foto polos terpenting adalah AP Lateral dan Oblique view. Posisi lateral dalam keadaan fleksi dan ekstensi mungkin berguna untuk melihat instabilitas ligament. Penilaian foto polos, dimulai dengan melihat kesegarisan pada AP dan lateral, dengan identifikasi tepi korpus vertebrae, garis spinolamina, artikulasi sendi facet, jarak interspinosus. Posisi oblique berguna untuk menilai fraktur interartikularis, dan subluksasi facet.
b. CT Scan
CT scan baik untuk melihat fraktur yang kompleks, dan terutama yang mengenai elemen posterior dari medulla spinalis. Fraktur dengan garis fraktur sesuai bidang horizontal, seperti Chane fraktur, dan fraktur kompresif kurang baik dilihat dengan CT scan aksial. Rekonstruksi tridimensi dapat digunakan untuk melihat pendesakan kanal oleh fragmen tulang, dan melihat fraktur elemen posterior.

c.     MRI
MRI memberikan visualisasi yang lebih baik terhadap kelainan medula spinalis dan struktur ligamen. Identifikasi ligamen yang robek seringkali lebih mudah dibandingkan yang utuh. Kelemahan pemakaian MRI adalah terhadap penderita yang menggunakan fiksasi metal, dimana akan memberikan artifact yang mengganggu penilaian.
Kombinasi antara foto polos, CT Scan dan MRI, memungkinkan kita bisa melihat kelainan pada tulang dan struktur jaringan lunak (ligamen, diskus dan medula spinalis). Informasi ini sangat penting untuk menetukan klasifikasi trauma, identifikasi keadaan instabilitas yang berguna untuk memilih instrumentasi yang tepat untuk stabilisasi tulang.

d.   Elektromiografi dan Pemeriksaan Hantaran Saraf
Kedua prosedur ini biasanya dikerjakan bersama-sama 1-2 minggu setelah terjadinya trauma. Elektromiografi dapat menunjukkan adanya denervasi pada ekstremitas bawah. Pemeriksaan pada otot paraspinal dapat membedakan lesi pada medula spinalis atau cauda equina, dengan lesi pada pleksus lumbal atau sacral.

Sedangkan menurut Arif Mutaqim, (2005, hal. 110) pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1)        Pemeriksaan Rontgen. Pada pemeriksaan Rontgen, rnanipulasi penderita harus dilakukan secara hati-hati. Pada fraktur C-2, pemeriksaan posisi AP dilakukan secara khusus dengan membuka mulut. Pemeriksaan posisi AP secara lateral dan kadang-kadang oblik dilakukan untuk menilai hal-hal sebagai berikut.
2)        Diameter anteroposterior kanal spinal.
3)        Kontur, bentuk, dan kesejajaran vertebra.
4)        Pergerakan fragmen tulang dalam kanal spinal.
5)        Keadaan simetris dari pedikel dan prosesus spinosus Ketinggian ruangan diskus intervertebralis Pembengkakanjaringan lunak.
6)        Pemeriksaan CT-scan terutama untuk melihat fragmentasi dan per­geseran fraktur dalam kanal spinal.
7)        Pemeriksaan CT-scan dengan mielografi.
8)        Pemeriksaan MRI terutama untuk melihat jaringan lunak, yaitu diskus intervertebralis dan ligamentum flavum serta lesi dalam sumsum medulla spinalis.


7.      Penatalaksanaan
Menurut Muttaqim, (2008 hlm.111) penatalaksanaan pada trauma tulang belakang yaitu :
1)      Pemeriksaan klinik secara teliti:
a)      Pemeriksaan neurologis secara teliti tentang fungsi motorik, sensorik, dan refleks.
b)      Pemeriksaan nyeri lokal dan nyeri tekan serta kifosis yang menandakan adanya fraktur dislokasi.
c)      Keadaan umum penderita.
2)      Penatalaksanaan fraktur tulang belakang:
a)      Resusitasi klien.
b)      Pertahankan pemberian cairan dan nutrisi.
c)      Perawatan kandung kemih dan usus.
d)     Mencegah dekubitus.
e)      Mencegah kontraktur pada anggota gerak serta rangkaian rehabiIitasi lainnya.






C.      Konsep Asuhan Keperawatan Cedera Medula Spinalis
Menurut Arif Muttaqim, (2005, hlm. 103-107) hal-hal yang perlu dikaji pada pasien fraktur lumbal adalah sebagai berikut:
1.      Pengkajian.
a.       Identitas klien, meliputi nama, usia (kebanyakan terjadi pada. usia muda),  jenis kelamin (kebanyakan laki-laki karena sering mengebut saat mengendarai motor tanpa pengaman helm), pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk rumah sakit (MRS), nomor register, dan diagnosis medis.
b.      Keluhan utama yang sering menjadi alasan klien meminta pertolong­an kesehatan adalah nyeri, kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas, inkontinensia urine dan inkontinensia alvi, nyeri tekan otot, hiperestesia tepat di atas daerah trauma, dan deformitas pada daerah trauma.
c.       Riwayat penyakit sekarang. Kaji adanya riwayat trauma tulang bela­kang akibat kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan industri, jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, luka tembak, trauma karena tali pengaman (fraktur chance), dan kejatuhan benda keras. Pengkajian yang didapat meliputi hilangnya sensibilitas, paralisis (dimulai dari paralisis layu disertai hilangnya sensibilitas secara total dan melemah/menghilangnya refleks alat dalam) ileus paralitik, retensi urine, dan hilangnya refleks-refleks.

d.      Masalah penggunaan obat-obatan adiktif dan alkohol.
e.       Riwayat penyakit dahulu. Pengkajian yang perlu ditanyakan meliputi adanya riwayat penyakit degeneratif pada tulang belakang, seperti osteoporosis dan osteoartritis.
f.       Pengkajian psikososiospiritual.
g.      Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data pengkajian anamnesis. Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan per sistem (B1-B6) dengan fokus pemeriksaan B3 (Brain) dan B6 (Bone) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan klien.
3)        Pernapasan.
Perubahan sistem pernapasan bergantung pada gradasi blok saraf parasimpatis (klien mengalami kelumpuhan otot­otot pernapasan) dan perubahan karena adanya kerusakan jalur simpatik desenden akibat trauma pada tulang belakang sehingga jaringan saraf di medula spinalis terputus. Dalam beberapa keadaan trauma sumsum tulang belakang pada daerah servikal dan toraks diperoleh hasil pemeriksaan fisik sebagai berikut.
a)        Inspeksi. Didapatkan klien batuk, peningkatan produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, peningkatan frekuensi pemapasan, retraksi interkostal, dan pengembangan paru tidak simetris.
b)        Respirasi paradoks (retraksi abdomen saat inspirasi). Pola napas ini dapat terjadi jika otot-otot interkostal tidak mampu mcnggerakkan dinding dada akibat adanya blok saraf parasimpatis.
c)        Palpasi. Fremitus yang menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan didapatkan apabila trauma terjadi pada rongga toraks.
d)       Perkusi. Didapatkan adanya suara redup sampai pekak apabila trauma terjadi pada toraks/hematoraks.
e)        Auskultasi. Suara napas tambahan, seperti napas berbunyi, stridor, ronchi pada klien dengan peningkatan produksi sekret, dan kemampuan batuk menurun sering didapatkan pada klien cedera tulang belakang yang mengalami penurunan tingkat kesadaran (koma).
4)      Kardiovaskular
Pengkajian sistem kardiovaskular pada klien cedera tulang belakang didapatkan renjatan (syok hipovolemik) dengan intensitas sedang dan berat. Hasil pemeriksaan kardiovaskular klien cedera tulang belakang pada beberapa keadaan adalah tekanan darah menurun, bradikardia, berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, dan ekstremitas dingin atau pucat.
5)  Persyarafan
a)      Tingkat kesadaran. Tingkat keterjagaan dan respons terhadap Iingkungan adalah indikator paling sensitif untuk disfungsi sistem persarafan. Pemeriksaan fungsi serebral. Pemeriksaan dilakukan dengan mengobservasi penampilan, tingkah laku, gaya bicara, ekspresi wajah, dan aktivitas motorik klien. Klien yang telah lama mengalami cedera tulang belakang biasanya mengalami perubahan status mental.
b)      Pemeriksaan Saraf kranial:
(1)   Saraf  I. Biasanya tidak ada kelainan pada klien cedera tulang belakang dan tidak ada kelainan fungsi penciuman.
(2)   Saraf  II. Setelah dilakukan tes, ketajaman penglihatan dalam kondisi normal.
(3)   Saraf  III, IV, dan VI. Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak mata dan pupil isokor.
(4)   Saraf V. Klien cedera tulang belakang umumnya tidak mengalami paralisis pada otot wajah dan refleks kornea biasanya tidak ada kelainan
(5)   Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris.

(6)   Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi.
(7)   Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius. Ada usaha klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk
(8)   Saraf  XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi, Indra pengecapan normal.

c)      Pemeriksaan refleks:
(1)   Pemeriksaan refleks dalam. Refleks Achilles menghilang dan refleks patela biasanya melemah karena kelemahan pada otot hamstring.
(2)   Pemeriksaan refleks patologis. Pada fase akut refleks fisiologis akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks fisiologis akan muncul kembali yang didahului dengan refleks patologis.
(3)   Refleks Bullbo Cavemosus positif
d)     Pemeriksaan sensorik. Apabila klien mengalami trauma pada kaudaekuina, mengalami hilangnya sensibilitas secara me-netap pada kedua bokong, perineum, dan anus. Pemeriksaan sensorik superfisial dapat memberikan petunjuk mengenai lokasi cedera akibat trauma di daerah tulang belakang
6)      Perkemihan
Kaji keadaan urine yang meliputi warna, jumlah, dan karakteristik urine, termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal.
7)      Pencernaan.
Pada keadaan syok spinal dan neuropraksia, sering dida-patkan adanya ileus paralitik. Data klinis menunjukkan hilangnya bising usus serta kembung dan defekasi tidak ada. Hal ini merupakan gejala awal dari syok spinal yang akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pemenuhan nutrisi berkurang karena adanya mual dan kurangnya asupan nutrisi.
8)      Muskuloskletal.
Paralisis motor dan paralisis alat-alat dalam bergantung pada ketinggian terjadinya trauma. Gejala gangguan motorik sesuai dengan distribusi segmental dari saraf yang terkena

2.      Diagnosa Keperawatan
Menurut Arif Muttaqim, (2005, hlm. 14-15) diagnosa keperawatan yang muncul pada Cedera Medula Spinalis adalah sebagai berikut:
a.       Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kelemahan otot-otot pernapasan atau kelumpuhan otot diafragma.
b.      Ketidakefektifan pembersihan jalan napas yang berhubungan dengan penumpukan sputum, peningkatan sekresi sekret, dan penurunan kemampuan batuk (ketidakmampuan batuk/batuk efektif).
c.       Penurunan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan penurunan curah jantung akibat hambatan mobilitas fisik.
d.      Nyeri berhubungan dengan kompresi saraf, cedera neuro­muskular, dan refleks spasme otot sekunder.
e.       Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhu­bungan dengan kemampuan mencerna makanan dan peningkatan kebutuhan metabolisme
f.       Risiko tinggi trauma yang berhubungan dengan penurunan kesadaran dan hambatan mobilitas fisik.
g.      Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan neuro­muskular.
h.      Perubahan pola eliminasi urine yang berhubungan dengan kelumpuhan saraf perkemihan.
i.        Gangguan eliminasi alvi/konstipasi yang berhubungan dengan gangguan persarafan pada usus dan rektum.
j.        Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan kelemahan fisik ekstremitas bawah.
k.      Risiko infeksi yang berhubungan dengan penurunan sistem imun primer (cedera pada jaringan paru, penurunan aktivitas silia bronkus), malnutrisi, dan tindakan invasif.
l.        Risiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilisasi dan tidak adekuatnya sirkulasi perifer.
m.    Perubahan persepsi sensori yang berhubungan dengan disfungsi persepsi spasial dan kehilangan sensori.
n.      Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan prognosis kondisi sakit, program pengoba tan, dan lamanya tirah baring.
o.      Ansietas yang berhubungan dengan krisis situasional, ancaman terhadap konsep diit, dan perubahan status kesehatan/status ekonomi/ fungsi peran.
p.      Ansietas keluarga yang berhubungan dengan keadaan yang kritis pada klien.
q.      Risiko ketidakpatuhan terhadap penatalaksanaan yang berhubungan dengan ketegangan akibat krisis situasional.

3.      Intervensi Keperawatan
a.       Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan integritas jaringan Kaji nyeri yang dialami klien
1)      kaji faktor yang menurunkan toleransi nyeri
2)      kurangi atau hilangkan faktor yang meningkatkan nyeri
3)      Pantau tanda- tanda vital
4)      Ajarkan tekhnik distraksi dan relaksasi
5)      Kolaborasi dalam pemberian obat Analgetik
b.      Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan fraktur lumbalis
1)      Tingkatkan mobilitas dan pergerakan yang optimal
2)      Tingkatkan mobilitas ekstremitas atau Latih rentang pergerakan sendi pasif
3)      Posisikan tubuh sejajar untuk mencegah komplikasi
4)      Anjurkan keluarga untuk memandikan klien dengan air hangat.
5)      Ubah posisi  minimal setiap 2 jam sekali
6)      Inspeksi kulit terutama yang bersentuhan dengan tempat tidur
c.       Inkontinensia defekasi bd kerusakan saraf motorik bawah
1)      Kaji adanya gangguan pola eliminasi (BAB)
2)      observasi adanya peses di pampers klien
3)      Anjurkan kepada klien untuk memberi tahu perawat atau keluarga kalau terasa BAB
4)      Anjurkan kepada keluarga untuk sering mengawasi klien
5)      Jelaskan kepada klien tentang adanya gangguan pola eliminasi
d.      Defisit perawatan diri: mandi
1)      Kaji keadaan umm klien
2)      Kaji pola kebersihan klien
3)      Lakukan personal hygiene (mandi) pada klien
4)      Libatkan keluarga pada saat memandikan

e.       Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien
2)      Kaji latar belakang pendidikan klien
3)      Berikan penkes kepada klien dan keluarga tentang penyakit dan diit makanan yang dapat mempercepat penyembuhan
4)      Berikan kesempatan klien untuk bertanya
5)      Evaluasi dari apa yang telah disampaikan

No comments:

Post a Comment

Post a Comment